Prosiding

Prosiding (proceeding) mirip dengan jurnal, juga merupakan tempat dipublikasikannya paper-paper. Beda prosiding dengan jurnal adalah, prosiding hanya menerbitkan paper-paper yang diseminarkan dalam seminar/conference tertentu.  Prosiding adalah kumpulan dari paper-paper akademis yang dipublikasikan dalam suatu acara seminar akademis. Biasanya didistribusikan sebagai buku cetakan setelah seminar usai. Prosiding berisi kontribusi yang dihasilkan para peneliti dalam seminar tersebut.

  • ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN BURNOUT (KEJENUHAN KERJA) PADA PERAWAT

    Di Indonesia angka kesakitan masyarakat masih tinggi, penyakit yang diderita oleh masyarakat di rawat jalan dan rawat inap, di ruang rawat inap perawat beresiko untuk mengalami burnout (kejenuhan kerja). Kejenuhan akan berdampak pada penurunan kualitas rawat inap dirumah sakit. Penilitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan burnout perawat di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang Tahun 2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Bhayangkara Palembang. Sampel pada penelitian ini adalah perawat pelaksana yang berjumlah 34 orang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu purposive sampling. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariate dan uji statistic yang digunakan adalah uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan umur dengan burnout (ρ=0,021). Ada hubungan jenis kelamin dengan burnout (ρ=0,041). Ada hubungan status perkawinan dengan burnout (ρ=0,024). Ada hubungan pendidikan dengan burnout (ρ=0,006). Ada hubungan masa kerja dengan burnout (ρ=0,008). Ada hubungan beban kerja dengan burnout (ρ=0,027). Ada hubungan stress kerja dengan burnout (ρ=0,027).
  • GAMBARAN PATIENT SAFETY CULTURE PADA PERAWAT UNIT RAWAT JALAN DAN RAWAT INAP RUMAH SAKIT JANTUNG DI WILAYAH JAKARTA

    Rumah sakit dalam menjalankan fungsinya sebagai wadah pelayanan kesehatan modern menjunjung tinggi prinsip keselamatan sebagai hal yang fundamental. Upaya yang dapat dilakukan dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah dengan budaya keselamatan pasien merupakan sebuah aspek yang menentukan kualitas pelayanan sebuah institusi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran Patient Safety Culture pada perawat Unit Rawat jalan dan Rawat Inap tahun 2018 di rumah Sakit Jantung Wilayah Jakarta, dilihat dari 12 Dimensi Budaya Keselamatan Pasien menurut AHRQ. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 384 responden. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran budaya keselamatan pasien secara keseluruhan adalah sebesar 67,8% yang dikategorikan dalam budaya keselamatan yang sedang, diharapkan dapat meneruskan dan mempertahankan program-program keselamatan pasien yang telah berjalan, monitoring dan evaluasi, serta melakukan pengukuran budaya keselamatan pasien secara menyeluruh dan periodik.
  • PENERAPAN TEORI KEPERAWATAN UNPLEASANT SYMPTOMS PADA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KANKER SERVIKS

    Peran perawat maternitas secara umum meliputi pemberian pelayanan keperawatan, konsultan, pendidik dan peneliti pada perempuan dengan permasalahan reproduksi. Perawat maternitas membantu pasien memperoleh kembali kesehatan dan kehidupan mandiri yang optimal melalui proses pemulihan secara fisik, emosional, spiritual dan sosial . Salah satu permasalahan reproduksi adalah kanker serviks yang disebabkan oleh HPV serta menimbulkan 4,030 kasus kematian. Pasien kanker serviks sering mengeluhkan lebih dari satu gejala fisik, psikologis dan situasional pada waktu tertentu cenderung bersamaan. Teori keperawatan yang diaplikasikan pada klien kanker serviks untuk mengatasi keluhan fisik, psikologis dan situasionalnya adalah unpleasant sympthom. Teori keperawatan tersebut tidak hanya membantu klien mengatasi permasalahan dari aspek fisik saja, namun juga mengatasi ketidaknyamanan dari aspek psikologis dan situasional sehingga asuhan keperawatan secara komprehensif dapat diberikan. Laporan akhir residen juga memaparkan capaian 100% untuk target kompetensi pada tiga tempat praktik dan berusaha memodifikasi hambatan yang dihadapi selama praktik.
  • KUALITAS TIDUR PADA RESPONDEN DENGAN RIWAYAT STROKE

    Stroke adalah salah satu masalah kesehatan yang serius. Pasien stroke bisa mengalami gangguan dan masalah tidur sehingga kualitas tidur menjadi buruk. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kualitas tidur pada pasien riwayat stroke. Desain yang digunakan adalah Deskripsi. Sampel dengan metode total sampling sebanyak 19 responden. Karakteristik usia terbanyak yaitu 56-60 tahun, jenis kelamin terbanyak perempuan yaitu 12 responden, sedangkan frekuensi stroke responden dengan serangan pertama yaitu 19 responden. Distribusi frekuensi kualitas tidur 19 responden (100%) mengalami kualitas tidur buruk. Implikasi penelitian diharapkan agar dapat memahami dan mengurangi gangguan dan masalah tidur pada pasien dengan riwayat stroke
  • IDENTIFIKASI KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DI PUSKESMAS: STUDI KUALITATIF TENTANG PERSEPSI MASYARAKAT DI BATANGHARI

    Isu tentang kesehatan ibu masih menjadi perhatian khusus hampir seluruh negara di dunia. Di dalam tujuan pembangunan milenium yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, peningkatan kesehatan ibu masuk ke dalam salah satu prioritas utama pembangunan, terutama di tujuan nomor lima. Setelah dilanjutkan dengan Program pembangunan berkelanjutan yang difokuskan ke dalam tujuan nomor tiga. Di Provinsi Jambi, Angka Kematian Ibu masih jauh di bawah angka nasional. Akan tetapi permasalahan ini harus dicegah dengan menerapkan program pencegahan yang komprehensif, terutama berhubungan dengan aspek pelayanan kesehatan ibu di Pusat Kesehatan Masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi narasi untuk menggambarkan persepsi masyarakat tentang kualitas pelayanan kesehatan ibu di Puskesmas. Penelitian in dilaksanakan di Puskesmas PONED Durian Luncuk Kabupaten Batanghari. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD) dipandu oleh peneliti dan bidan koordinator. Wawancara terstruktur juga dilakukan kepada beberapa petugas kesehatan. Informasi dianalisis dengan metode content analysis dan dipaparkan secara deskriptif. Dari analisis data kualitatif, diperoleh 3 isu utama, yaitu (1) bagaimana kualitas pelayanan kesehatan ibu yang disediakan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas, (2) berbagai tantangan dan hambatan yang menyebabkan ibu sulit mengakses pelayanan kesehatan di Puskesmas, dan (3) masukan dari pengguna pelayanan kesehatan ibu dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Mayoritas informan mengemukakan bahwa pelayanan kesehatan ibu yang disediakan oleh pihak Puskesmas Durian Luncuk sudah lebih baik dibandingkan sebelum diakreditasi. Waktu yang dibutuhkan dari awal pedaftaran sampai dengan layanan tidak begitu lama. Petugas kesehatan telah mampu berkomunikasi dengan baik dengan informan, serta informan merasa layanan yang diberikan sangat baik. Secara umum, kualitas pelayanan kesehatan ibu di Puskesmas Durian Luncuk Batanghari sudah sesuai dengan SOP yang ada. Penambahan SDM Kesehatan khususnya dokter dinilai sangat mendesak dilaksanakan agar pelayanan setiap Poli bisa terlayani dengan maksimal.
  • PERBEDAAN PEMBERIAN KOMPRES HANGAT DAN MASASE TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA LANSIA NYERI ARTHRITIS SENDI DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA WARGATAMA INDRALAYA SUMATERA SELATAN

    Sekitar 40 % dari jumlah total penduduk Indonesia yang berusia di atas 40 tahun mempunyai keluhan nyeri sendi dan otot. Nyeri pada artrirtis sendi dapat diatasi secara farmakologi dan nonfarmakologi. Secara Nonfarmakologi dapat menggunakan tehnik manajemen nyeri baik dengan latihan fisik, masase, kompres hangat maupun pengaturan diet.Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan pemberian kompres hangat dan masase terhadap intensitas nyeri pada lansia yang memiliki keluhan nyeri arthritis sendi di Panti Sosial Tresna Werdha Wargatama Inderalaya Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasy Eksperimen dengan posttest only with control group design menggunakan statistik yaitu Uji Friedman. Pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling dengan jumlah sampel 30 orang masing-masing kelompokintervensi 15 orang dan kelompok kontrol terdiri dari 15 orang. Hasil pada penelitian ini Ada perbedaan intensitas penurunan Nyeri Sendi Lutut pada hari 1 dan hari ke 3 setelah diberikan terapi Kompres hangat pada Lansiadi Panti Sosial TresnaWerdha Wargatama Indralaya Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan.Ada perbedaan intensitas penurunan Nyeri Sendi Lutut pada hari 1 dan hari ke 3 setelah diberikan terapi Masase pada daerah sendi lutut pada Lansia di panti Pada Lansia di Panti Sosial TresnaWerdha Wargatama Indralaya Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna antara terapi kompres hangat dan masase dalam menurunkan intensitas nyeri Sendi Lutut Pada Lansiadi Panti Sosial TresnaWerdha Wargatama Indralaya Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Masase lebih efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dari kompres hangat.
  • Pengembangan Self Management Pada Pelayanan Kesehatan Tahun 2018

    Rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang lain seyogianya mempertimbangkan bahwa asuhan yang diberikan kepeda pasien merupakan bagian dari suatu sistem pelayanan yang terintegrasi dengan para profesional pemberi asuhan dan tingkat pelayanan yang akan membangun suatu kontinuitas pelayanan. Kontinuitas pelayanan dapat dimaknai bahwa asuhan kepada pasien diberikan sejak pasien masuk ke fasilitas kesehatan sampai dia kembali ke rumahnya. Profesional pemberi asuhan utamanya perawat harus memastikan bahwa pasien yang dikelolanya mampu untuk memahami konndisi dirinya sendiri termasuk memahami kapan membutuhkan bantuan tenaga kesehatan professional. Lebih jauh lagi diharapkan pasien mampu melakukan pengeloaan diri dan memenuhi kebutuhan diri mereka sendiri ketika di rumah. Kemampuan pasien dalam mengelola diri sendiri sehingga dapat memenuhi kebutuhan dirinya tersebut dinamakan self management yang selanjutnya disebut manajemen diri.
  • DAILY LIVING SKILLS INDEPENDENCY ON VISUALLY IMPAIRED TEEN

    The prevalence of blind people in Indonesia reaches 1%. Data reported by the Central Statistics Agency (BPS) states that around 40% of the 3.75 million blind people in Indonesia were school-age children. Blind teenagers must be able to live in a community environment properly and must be able to adapt to the surrounding environment. They were required to be able to live independently. Independence has a great influence on the future of the child, if it is not responded to appropriately it can have a detrimental impact on the psychological development of the child. Basic knowledge and skills for the blind are those that lead to daily activities (activity of daily living). This study was purposed to see Daily Living Skills independency on Visually Impaired Teen in DKI Jakarta. total sampling was used and 64 respondents were obtained with a quantitative approach. Data collected with Assessment sheet and then analyzed. The results showed that of 64 visually impaired adolescents, 31 total blid (TB) and 33 low vision (LV). Based on the independence of the Daily Living skills, most of them were lived independently on activity daily living.
  • HUBUNGAN USIA LANSIA DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KEJADIAN DEPRESI PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA TERATAI TAHUN 2018

    Peningkatan usia harapan hidup juga mempunyai dampak lebih banyak terjadinya gangguan penyakit pada lansia. Depresi termasuk gangguan mental yang sering ditemukan pada usia lanjut. Gejala depresi ini bisa mengakibatkan dapat memperpendek harapan hidup dengan mencetuskan atau memperburuk kemunduran fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia lansia dan dukungan sosial dengan kejadian Depresi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Teratai Pelembang 2018. Jenis penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif bersifat analitik dengan desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional. Responden yang diteliti adalah para lanjut usia yang ada dipanti Sosial Tresna Werdha Teratai Palembang sebanyak 52 orang. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan November. Hasil penelitian diperoleh bahwa ada hubungan bermakna antara umur dan dukungan sosial dengan kejadian depresi (p= < α=0,05). Saran yang dapat diberikan setelah penelitian dilakukan adalah perlunya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang memadai serta memberikan kesempatan yang seluasluasnya kepada lansia yang mengalami depresi untuk meningkatkan kegiatan keagamaan, komunikasi, melakukan rekreasi dan membuat kegiatan yang menghibur lanjut usia dan lebih memperhatikan dan merawat serta menjaga para lanjut usia dan meningkatkan standar pelayanan yang ada di Panti Sosial Tresna Werdha Teratai Palembang 2018.
  • PERILAKU PERAWAT TERHADAP PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN NURSING BEHAVIOR OF NURSING CARE DOCUMENTATION.

    Dokumentasi keperawatan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan yang dimilki perawat dalam melakukan catatan perawatan yang berguna untuk kepentingan klien, perawat, dan tim kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan dasar komunikasi yang akurat dan kelengkapan secara tertulis dengan tanggung jawab perawat. Penilitian ini bertujuan mengetahui hubungan perilaku perawat dengan pendokumentasian keperawatan.Desain penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Pusri Palembang.Sampel pada penelitian ini adalah Perawat di Ruang Rawat Inap, yang berjumlah 41 orang. Data dalam ini di dapat dengan menggunakan instrumen kuisioner, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Uji chisquare.Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 06 Mei s.d 11 Juni 2019. Hasil penelitian didapatkansebagian pengetahuan baik 19 orang (46,3%),sikap positif23 orang (56,1%), dan yang melakukan tindakan 25 orang (61,0%), dan pendokumentasian keperawatan baik 27 orang (65,9%). Hasil analisa bivariat ada hubungan pengetahuan dengan pendokumentasian keperawatan ρ value = 0,008, ada hubungan sikap dengan pendokumentasian keperawatan ρ value =0,026. Ada hubungan tindakan dengan pendokumentasian keperawatan ρ value = 0,040. Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan perilaku perawat dengan pendokumentasian asuhan keperawatan.
  • APLIKASI METODE PELATIHAN PERAWAT PUSKESMAS SEBAGAI CHANGE AGENT DALAM UPAYA DETEKSI DINI GANGGUAN JIWA MASYARAKAT WILAYAH PUSKESMAS PLAJU.

    Kemajuan era globalisasi yang berdampak positif bagi kesejahteraan manusia memberikan pengaruh yang negative bagikesehatan masyarakat dengan bergesernya kelompok penyakit menular ke kelompok penyakit tidakmenular termasuk penyakit dengan masalah kejiwaan. WHO memperkirakan prevalensi gangguan kesehatan mental akan mencapai angka 15%-20% pada tahun 2020 disertai dengan Disability Adjusted Life Years (DALYs) atau hari-hari produktif yang hilang, gangguan jiwa menyebabkan beban di seluruh dunia sebesar 8,1% dari beban penyakit global. Pemahaman dan keyakinan petugas kesehatan dan masyarakat mengenai kesehatan jiwa akan membantu dalam mengenali, mengelola, dan mencegah memburuknya suatu gangguan jiwa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan ,sikap dan perilaku perawat dalam melakukan deteksi dini gangguan jiwa dan memberikan asuhan keperawatan jiwa kepada masyarakat diwilayah kerja puskesmas Plaju. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif menggunakan desain Quasi experimental pre posttest without control group dengan intervensi pelatihan perawat Puskesmas. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat peningkatan pengetahuan,sikap dan perilaku perawat puskesmas setelah diberikan pelatihan dalam melakukan deteksi dini angka gangguan jiwa masyarakat yaitu pengetahuan mencapai kategori baik sebanyak 33%, sikap kategori baik 33%dan perilaku perawat dalam kategori baik dan mampu melakukan deteksi dini gangguan jiwa sebesar 97,5%. Perawat dapat melakukan deteksi dini gangguan jiwa dan sekaligus menerapkan asuhan keperawatan bagi anggota keluarga yang sudah mengalami gangguan jiwa. Rekomendasi diharapkan perawat dapat mengadakan pelatihan bagi kader masyarakat dan dinas kesehatan dapat memfasilitasi kegiatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat
  • Prosiding Konferensi Nasional Keperawatan Kesehatan Jiwa Tahun 2018

    Kegiatan sehari-hari di pondok pesantren sangat padat membuat mahasiswi menjadi stres yang dapat menyebabkan terjadinya masalah kesehatan jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan masalah kesehatan jiwa mahasiswi yang tinggal di pondok pesantren Al Husna. Desain penelitian ini yaitu deskriptif dengan pendekatan survei. Terdapat 165 responden yang telah dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Masalah kesehatan jiwa mahasiswi diukur menggunakan Self Reporting Questionaire (SRQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswi di pondok pesantren Al Husna yang mengalami masalah kesehatan jiwa sebanyak 46,7% dan mahasiswi yang tidak mengalami masalah kesehatan jiwa sebanyak 53,9%. Penelitian ini menunjukkan bahwa hampir separuh mahasiswi yang tinggal di pondok pesantren Al Husna mengalami masalah kesehatan jiwa. Manajemen stres perlu diajarkan kepada mahasiswi di pondok pesantren Al Husna untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan jiwa.
Browse all
Prev Next